Mendapat Beasiswa AAS (Part 1): Interview dan IELTS TEST

Hi again bagi yang sudah pernah mampir, untuk yang baru pertama kali mampir, tulisan ini adalah sambungan dari Melamar Beasiswa Australia Awards Scholarship (Part 1 & 2). So, dalam tulisan ini tidak akan lagi membahas  berkas-berkas yang harus dikirim untuk melamar beasiswa AAS, tapi akan lebih banyak bercerita tentang memasuki proses seleksi selanjutnya dalam beasiswa AAS bagi para Awardee candidates atau shortlisted. Mengingat saya banyak mendapati informasi yang bermanfaat dari blog-nya pak Made Andi, saya sarankan bagi yang akan atau sedang melamar beasiswa AAS untuk mengunjungi juga blog beliau, karena informasi beliau sangat detail terkait mempersiapkan diri untuk seleksi tahap 2 beasiswa AAS, bisa dicek disini https://madeandi.com.

Ok…setelah aplikasi saya rampung sejak Maret, saya juga sempat mem-print aplikasi yang sudah lengkap terisi untuk mengingat-ingat jawaban yang sudah saya berikan. Setelah pendaftaran ditutup, Anda sudah tidak bisa lagi membuka akun lamaran untuk memprint jawaban Anda, jadi hal ini perlu diingat. Tak lama sesudah itu, rutinitas pekerjaan kembali mengalihkan perhatian, hingga saya benar-benar lupa telah mengirim aplikasi, hingga suatu siang….tepatnya di minggu ketiga bulan Juli kira-kira 2 bulan setelah lamaran ditutup, ada sms masuk meminta saya untuk mengecek email. Ternyata saya diundang untuk hadir mengikuti IELTS tes tgl 30 Juli dan Join Selection Team (JST) Interview tanggal 3 Agustus di Jakarta dari AAS. Bahagia, haru, kaget dan deg-degan bercampur jadi satu, saya memberitahukan hal ini ke suami yang tampak tenang dan sama sekali tidak kaget atas berita tersebut, dia selalu yakin saya pasti mendapat beasiswa itu sejak hari kami berkunjung ke kantor AAS ( :D…thank you so much hubby), entah darimana keyakinannya, tapi  mungkin ini cara Tuhan menolong saya untuk tidak cepat menyerah di tengah jalan.

Setelah mengecek email, ternyata waktu untuk interview tak sampai dua minggu lagi. Dari isi email saya tahu bahwa AAS akan mengganti tiket PP dari kota tinggal ke Jakarta, tetapi untuk biaya penginapan dan biaya hidup selama mengikuti tes harus kita siapkan sendiri mengingat saya harus tinggal hampir 5 hari di Jakarta karena jeda waktu  IELTS tes dan interview. Untuk AAS tahun 2016, jumlah shortlisted sekitar 600an candidate untuk diseleksi lagi hingga 300an penerima awardee (informasi ini saya dapatkan waktu briefing sebelum interview dari salah seorang panelis). Interview bagi semua pelamar S3 dilaksanakan di Jakarta sedangkan untuk pelamar S2 dilaksanakan di Jakarta dan Bali. Dalam undangan tes yang dikirim AAS  juga memberikan informasi apa saja yang perlu kita siapkan untuk mengikuti tes. Kita juga langsung diminta untuksegera registrasi secara online keikutsertaan kita dalam tes IELTS. Untuk tes IELTS cukup menyiapkan alat tulis dan KTP atau Paspor yang dipakai sesuai aplikasi lamaran. Untuk JST Interview khusus bagi pelamar S3 diminta mempersiapkan presentasi proposal penelitian selama 10 menit secara verbal tanpa alat bantu seperti laptop atau power point (tapi boleh membawa catatan tertulis). Setelah itu akan ada 25 menit sesi tanya jawab.

Dalam waktu seminggu lebih, saya lebih banyak mempersiapkan diri saya untuk menghadapi interview. Saya membuat sebuah naskah untuk presentasi 10 menit saya, yang kemudian saya latih berulang-ulang sambil mengecek agar tidak ada hal yang terlewat.

Isi presentasi saya dimulai dengan memperkenalkan diri saya dan sedikit latar belakang pekerjaan saya, kemudian topic penelitian yang saya pilih dan mengapa saya mengambil topic tersebut. Selanjutnya penjelasan saya lebih banyak tentang penelitian saya mengenai tujuan, metodologi dan timeline dari penelitian saya dimana saya menjelaskan bagaimana saya menjadwalkan untuk studi saya dapat selesai dalam 3-4 tahun. Saya mulai berlatih setelah naskah siap, di awal-awal latihan, saya berusaha agar presentasi saya tidak lebih dari 10 menit, apabila masih terlalu panjang, maka saya akan menyingkat bila perlu menghilangkan beberapa kalimat atau paragraf.  Latihan ini saya lakukan berulang-ulang, karena saya merasa butuh pendengar yang objektif, saya meminta suami mendengarkan presentasi saya, tetapi karena dalam bahasa Inggris jadi banyak hal tidak ia pahami, dahinya berkenyit sedari awal hingga saya selesai, bahkan dia tidak tahu ketika saya sudah menutup presentasi saya dengan berkata “thank you for listen…..(hening)”  membuatnya bertanya, “kenapa diam?”  saya sulit untuk tidak tertawa. Itulah yang pertama dan terakhir latihan saya di depan orang lain, yaitu suami saya, sisanya saya memilih berlatih sendiri.

Syukurlah AAS memberi  tahu kita apa tujuan dari interview yaitu untuk mengukur dan memberi rangking bagi kandidat dilihat dari tiga aspek berikut :

  • Kompetensi Akademik

Seperti bagaimana anda memilih program dan universitas yang tepat untuk memenuhi kebutuhan anda

  • Atribut kepemimpinan professional dan personal

Contoh pertanyaan : apakah tujuan anda untuk masa depan dan rencana anda untuk 10 tahun ke depan?

  • Output

Contoh pertanyaan : bagaimanakah kualifikasi dan pengalaman anda selama di Australia bisa memberikan manfaat bagi instansi atau sektor Anda?

Mengingat jawaban ini membutuhkan latar belakang bekerja, bagi Anda yang mau melamar beasiswa AAS  termasuk pelamar beasiswa S2, jika Anda adalah seorang fresh graduate dan belum memiliki pengalaman bekerja, saya sarankan Anda berusaha memiliki pengalaman bekerja terlebih dulu minimal satu tahun.

Akhirnya tanggal 29 Juli saya menempuh perjalanan ke Jakarta, menaiki pesawat dari Tobelo-Manado-Jakarta. Sesampai di Jakarta, saya menggunakan aplikasi untuk mencari hotel yang terjangkau di lokasi yang dekat dengan lokasi tes yang memang berdekatan juga dengan kantor AAS di Jl. HR Rasuna Said. Setelah tiba di sana, saya memilih untuk rileks dan tidak terlalu memaksakan diri untuk belajar, karena takut kelelahan dan lesu besok pagi. Jadwal tes dimulai jam 9, tetapi  sejak jam 7.00 kami sudah diminta hadir di kantor IAELF. Saya tiba jam 06.30 dan betapa kagetnya saya dengan sudah begitu banyak orang disana. Setelah mendaftar kami masuk dalam ruang Auditorium dan mendapatkan briefing terlebih dulu, untuk selanjutnya difoto dan dicek KTP dan paspor barulah dipanggil kembali untuk duduk di kursi tes, saya sedikit gelisah setelah duduk di ruang tes, setelah menyadari bahwa karena focus di interview, saya sama sekali tidak mempersiapkan diri untuk tes IELTS, ternyata beberapa teman yang sempat berkenalan juga berkata demikian. Tes akhirnya selesai, masing-masing peserta kembali pulang. Saya masih harus menunggu beberapa hari lagi karena jadwal interview saya. Hari-hari menunggu saya diisi dengan kembali latihan, dan berjalan-jalan sekitar kompleks hotel.

Hari interview dimulai pagi jam 08.00, pukul 07.30 saya sudah ada di kantor IAELF dan menunggu hingga dipanggil, akhirnya saya dipanggil ke sebuah ruangan dan bergabung dengan 6 orang candidates lainnya, 2 diantaranya adalah pelamar S2, dan 4 lainnya pelamar S3. Kami berkenalan satu dengan yang lain sebagian besar dari Indonesia Timur, seperti Makasar, Kupang dan saya sendiri Maluku Utara. Mereka juga dari berbagai latar belakang yang berbeda, sebagian besar dosen dan ada juga yang PNS dan bekerja di Kementerian. Sebelum interview dimulai, diruang terpisah kami dibriefing terlebih dulu, briefing berlangsung santai, tidak setegang yang kami pikirkan, semua interviewer diperkenalkan terlebih dulu ke kami. Ada empat orang interviewer dua adalah Dosen dari Universitas di Indonesia dan dua lainnya adalah dosen dari Universitas Australia. Suasana interview hampir sama dengan briefing, berlangsung santai tapi dengan pertanyaan-pertanyaan yang cukup serius. Yang pasti Anda tidak akan merasa terintimadasi oleh interviewer. Pertanyaan-pertanyaan tersebut seperti yang sudah disampaikan dalam surat mereka.

Akhirnya tidak terasa 35 menit sudah saya berada dalam ruang tersebut,  saya dipersilahkan untuk keluar ruangan dan mereka melanjutkan dengan peserta berikutnya. Malam itu juga saya langsung kembali pulang ke kota saya, sambil menyerahkan semua yang sudah saya lakukan kepada kehendak-Nya.

Sebulan setelah interview, saya dengar dari satu dua teman yang sempat berkenalan waktu tes IELTS mereka sudah mendapat konfirmasi dan syukurlah mereka diterima. Saya mulai cemas dan gugup, saya mengecek email melalui smartphone saya, sinyal yang buruk membuat saya sedikit frustasi karena berkali-kali email dibuka hanya terlihat kosong. Syukurlah tidak lama (satu hari kemudian… sigh..)  sinyal membaik, saya sudah bisa membuka email dan melihat bahwa ternyata saya juga sudah menerima email tersebut sejak 4 hari sebelumnya, dan  saya lulus juga. Sesuai hasil tes IELTS (masih ada satu band  saya yang scorenya dibawah 6) jadi saya diwajibkan ikut Pre-departure training selama 3 bulan di Jakarta, sejak Oktober-Desember. Tetap saya berterima kasih ke Tuhan atas hadiah indah ini. Yang penasaran seperti apa offering letternya, ini punya saya, maaf hanya bisa dicrop hingga paragraf pertama saja. Yang pasti waktu terima surat ini saya membacanya berulang ulang ulang kali dan kupu-kupu serasa terbang di perut saya 😀 hehe.. Semoga setiap Anda juga mendapatkan moment Anda sendiri where your dream comes true.

offering letter_edited

Bagi yang mau bertanya terkait beasiswa ini, silahkan koment atau email saya ke en_aloisa@yahoo.com. Terima kasih sudah membaca

 

Iklan

4 Replies to “Mendapat Beasiswa AAS (Part 1): Interview dan IELTS TEST”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s