Merangkul asa, Jakarta-Brisbane

life is a journey to go through,

sometimes it makes you happy,

sometimes its unplanned, imcomprehensible or even unwanted,

 it takes faith to keep walk through 

that nothing happens without purpose

at the end you’ll find that the greatest journey is the changing that happens inside you”

(by: Ane N.)

Judul kali ini memang sedikit puitis, karena meninggalkan kerabat, sahabat, kolega, terlebih keluarga harus terjadi. Segala yang kita sudah terbiasa, harus ditinggalkan untuk beberapa waktu lamanya. Tapi peristiwa ini bukan tentang melepaskan dan menerima pengalaman lama dan baru, tetapi melapangkan hati dan batin untuk membawa pengalaman dan berbagai kenangan serta relasi yang sudah ada dan memberi ruang untuk berbagai pengalaman yang baru.

Sebagai salah satu penerima beasiswa AAS tahun 2016, waktu keberangkatan saya sebenarnya dijadwalkan pada Januari 2017 lalu, tetapi karena beberapa pertimbangan saya mengajukan pengunduran keberangkatan. Waktu keberangkatan saya disesuaikan dengan jadwal akademik kampus saya. Kebetulan tempat saya kuliah nanti, menerapkan trimester, kuliah saya dimulai pada Trimester 2 di awal Juli 2017. Biasanya setiap penerima beasiswa AAS akan dijadwalkan untuk tiba di Australia 1 bulan lebih awal untuk dapat mengikuti program IAP yang biasanya berlangsung 4-6 Minggu. Jadwal keberangkatan  setiap awardee biasanya dijadwalkan seminggu sebelum IAP dimulai untuk memberikan setiap awardee kesempatan untuk menemukan dan menyiapkan temporary atau long stay accomodation.

Sebelum keberangkatan, biasanya kita akan mulai menerima informasi terkait konfirmasi penerimaan dari Universitas atau Unconditional offer atau surat diterima dari Universitas, setelah surat ini diterima AAS barulah visa kita akan diurus dan kemudian yang terakhir adalah tiket. Untuk urusan akomodasi kita akan diberikan pilihan untuk dapat menggunakan akomodasi yang disediakan oleh kampus atau bisa kita cari sendiri melalui kenalan atau mahasiswa Indonesia yang berada di sana.

Kebetulan saya sudah terlebih dahulu mencari kontak mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di GU (Griffith University) dan dikasih informasi mengenai akomodasi yang bisa disewa istilahnya ‘temannya teman’ :). Karena harganya lumayan terjangkau dan kamarnya saya rasa cukup untuk diri sendiri, jadi saya iyakan. Rata-rata akomodasi di asrama kampus biasanya lebih mahal dibandingkan akomodasi di luar kampus. Pada kasus saya, kamar yang saya sewa seharga AUD160 per minggu, sedangkan akomodasi kampus seharga AUD56 semalam. Akomodasi saya berupa kamar dengan beberapa bagian rumah seperti dapur, ruang tamu dan kamar mandi berbagi dengan penghuni lainnya. Bpk&Ibu kos saya adalah Pasangan dari Bangladesh, sang suami adalah mahasiswa doktor di Griffith University  di tahun terakhir, sang istri mendampingi ke Australia, pasangan ini punya anak laki-laki yang lucu bernama Sa’em.  Mereka benar-benar pasangan yang ramah dan peka dengan kebutuhan orang lain. Ketika saya tiba, barulah saya tahu kalau kita semua sepertinya seumuran :D.  O ya, setiap awardee, sebaiknya menyiapkan sejumlah uang ketika berangkat, karena perlu waktu minimal 2-5 hari hingga kita mendapatkan stipend untuk belanja di perjalanan, membayar akomodasi serta belanja berbagai keperluan kita di Australia nanti.

 

Keberangkatan setiap awardee AAS ke Australia diatur oleh AAS selalu menggunakan QANTAS airlines :D. Untuk yang kuliah selain di kota Sidney, saya kurang tahu untuk yang di bagian Barat Australia, biasanya akan selalu transit lebih dahulu di Sidney, kemudian dilanjutkan dengan penerbangan domestik ke kota tujuan.

Perjalanan Jakarta Sidney sekitar 6jam 50 menit dan Sidney-Brisbane 95 menit total hampir 9 jam, belum ditambah transit.Waktu di Sidney lebih cepat 3 jam dari Jakarta atau 1 jam lebih awal dari Tobelo :). Sewaktu di Jakarta saya sudah mulai merasa seperti mau flu, ditambah kurang tidur di pesawat dan AC yang lumayan kencang dalam pesawat Sidney-Brisbane maka puyeng, lemas dan flu berat menyambut ketika tiba di Brisbane, jadi pelajaran untuk dapat lebih mempersiapkan kondisi tubuh sebelum berangkat termasuk dengan menggunakan busana yang tepat.

Meski demikian, kondisi saya yang kepayahan tidak bisa menghentikan semangat saya, meski saya tiba jam 2 siang di kos, saya tetap mau ke kampus, yang memang tidak jauh dari kos tapi tidak saya tahu dimana tempatnya. Untunglah ketika di bandara begitu tiba, saya dan teman saya sesama penerima AAS mengganti nomor seluler kami agar bisa komunikasi dengan keluarga masing-masing. Bermodalkan google map dan informasi dari ibu kos, saya ke kampus. Meski sempat salah jalan akhirnya sampai juga di kampus saya. Senangnya bisa foto di platform kampusnya.

Jatuh hati saya dengan kota Brisbane, meski tak sesibuk Sidney atau seramai Melbourne, kecantikan kota ini khas dengan sungai berliuk yang membelah kota ditambah dengan cuaca yang hangat diselingi hembusan angin yang sejuk. Kota yang indah dengan cuaca yang menawan adalah paduan yang sempurna, makes my heart singing. Psalm 23:6a, MSG.

20170525_113115.jpgdok: Pribadi

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

WordPress.com.

Atas ↑

%d blogger menyukai ini: